Jumat, 18 Juni 2010

Zuhud Penangkal Budaya Konsumerisme

Dalam beberapa hari ini, saya sedang berusaha menyelami makna yang terkandung di dalam kata “zuhud.” Saya sangat penasaran dengan kata yang satu ini. Kata ini bukanlah kata yang asing ditelinga, mungkin juga dengan Anda. Kata ini begitu sering muncul dalam tema-tema keislaman. Karena Islam memang menganjurkan umatnya untuk senantiasa hidup zuhud.

Zuhud sangat identik dengan penghindaran terhadap kehidupan dunia. Bahkan secara ekstrem penerapan zuhud bisa berarti menjauhi seluruh kepentingan yang terdapat unsur duniawi. Ya tentu saja, semua ini memiliki dasar, mengapa zuhud ini perlu.



Jadi, mengapa zuhud itu perlu dipraktekan dalam kehidupan? Apakah zuhud itu? Kalau dipraktekan, bagaimana cara mempraktekannya dalam kehidupan ini. Sekarang, kita akan coba mengkaji serta menelaah kata zuhud ini.

Arti Zuhud
Seperti kutipan yang saya ambil dari muslim.or.id secara bahasa, zuhud berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan tidak dibutuhkan. Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina.”

Sedangkan secara istilah, masih dari muslim.or.id. Ibnu Taimiyah mengatakan, yang disampaikan kepada muridnya, Ibnu Qoyyim bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat.

Al Hasan Al Basri mengatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

Masih ada lagi. Dalam buku Syarah Hadist Arba’in Imam Nawawi, menuliskan zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak dibutuhkannya di dunia meskipun halal dan mencukupkan dengan yang ada.

Pemaknaan Zuhud
Setelah mengetahui arti “zuhud” secara bahasa dan istilah. Kita coba berusaha mencari hikmah dibalik kata penuh makna ini.

Dari berbagai definisi di atas baik secara bahasa ataupun istilah, ada satu kunci atau keyword berkaitan dengan zuhud. Keyword itu adalah hidup sesuai dengan kebutuhan dan tidak berlebihan sehingga melalaikan dari kehidupan akhirat.

Hidup sesuai kebutuhan memiliki arti bahwa apa yang kita miliki memang benar-benar menjadi kebutuhan hidup kita. Dan kitapun melihatnya dari sisi kemanfaatan dan kegunaan dari yang kita miliki tersebut. Begitu juga dengan kepemilikan atau penggunaan yang berlebihan. Tapi akan kita bahas nanti, sabar ya…


Penerapan Zuhud
Kita masuk kepembahasan ini. Bagaimana penerapannya?

Begini, kadang-kadang kita sebagai manusia mudah sekali terpancing dengan berbagai tawaran kemewahan dunia. Paling tidak kita begitu tergiur untuk memiliki sesuatu yang baru. Misalnya saja, HP, televisi, dan berbagai fasilitas yang lain. Naluri kita merasa, saya menginginkan HP model terbaru itu.

Pikiran kita, bahkan pikiran bawah sadar kita ini telah berhasil dikuasai oleh budaya konsumerisme yang berlebih. Artinya, kebanyakan kita lebih mendahulukan kepemilikan barang daripada melihat manfaat dan kegunaannya buat kita. Coba saja lihat di rumah Anda. Barang apa saja yang dirumah Anda yang sudah Anda beli, dan sampaikan saat ini belum Anda manfaatkan atau digunakan? Pasti jumlah sangat banyak.

Zuhud sebenarnya ingin memberikan suatu kontrol sikap dari budaya konsumerisme yang berlebihan. Kalau kita terus mengikuti keinginan untuk memiliki sesuatu, selamanya hati kita tidak akan merasa santai. Semakin menuruti, semakin resah diri kita.

Beberapa hari yang lalu, saya membeli tabloid PULSA. Saya mencari informasi seputar ponsel. Yang saya cari adalah software yang dapat mendukung fasilitas HP. Ternyata saya juga mendapatkan informasi tentang ponsel-ponsel teranyar dan canggih dengan fasilitas pendukung yang mantap. Saya pun melihat ponsel saya. Terlintas memang untuk mengganti ponsel yang baru. Tapi setelah saya lihat kebutuhan dan kemanfaatan dari fasilitas, rasa-rasanya saya belum membutuhkan ponsel keluaran terbaru. Lagi pula ponsel saya memiliki fasilitas yang saya perlukan. (selain memang ga punya duitnya, he..he…he…)

Kalau kita hanya memerlukan satu ponsel, ya cukup satu ponsel aja. Jangan punya dua, tiga, apalagi sampai sepuluh ponsel. Masing-masing ponsel untuk SMS, Telpon, Modem, Chating, YM-an, FB-an, dan Twiter-an. Ini namanya over kebutuhan. Sikap ini menguntungkan produsen dan merugikan konsumen.

Zuhud juga merupakan jawaban dari hukum Parkinson. Yang mengatakan jumlah pendapatan yang besar berbanding lurus dengan pengeluaran yang besar juga. Berapa pun pendapatan (uang) yang kita terima maka kita pun memiliki kecenderungan untuk melakukan pengeluaran yang besar pula. Hukum Parkinson ini membuat angka keuangan kita selalu NOL (0) bahkan minus (-).

Oleh karena itu, kita dianjurkan untuk zuhud. Mengambil dari kehidupan ini sesuai dengan kebutuhan yang memang ada manfaat dan kegunaan bagi diri kita. Hidup seperti ini akan membuat hati menjadi tenang. Tetap nyaman menjalani hidup dan sekaligus menjalankan ajaran Islam dengan baik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

Arti (1) Budaya (1) Dunia (1) hebat (1) hewan (1) hukum (1) kebutuhan (1) keputusan (1) kerbau (1) Konsumerisme (1) Makna (1) manusia (1) memilih (1) parkinson (1) Penangkal (1) populer (1) potensi (1) potensi besar (1) sukses (1) Zuhud (1)