Namun polemik atau komentar tentang kepopuleran kerbau ini menuai kontroversi. Artinya, ada pihak-pihak yang setuju dan tidak setuju terhadap penggunaan hewan kerbau sebagai media demonstrasi. Alasan dari yang tidak setuju adalah sangat menghinakan, tidak pantas menggunakan simbol kerbau sebagai simbolisasi pemerintah. Dari yang setuju, ini hanya cerminan dari pemerintahan yang kinerjanya mirip seperti sifat kerbau. Seperti lambat, malas, dan bodoh.
Binatang bertanduk dua ini, kini menjadi hewan yang paling populer. Hal ini disebabkan karena hewan ini digunakan sebagai media atau alat dalam penyampaian aspirasi pada saat demo 100 hari kinerja pemerintah. Hal lain yang membuat hewan ini menjadi terkenal karena hewan ini mendapat komentar dari kepala negara Indonesia. Ya tentu saja, karena yang berkomentar Presiden, maka hewan ini menjadi amat populer.
Padahal dulu hewan ini hanya dikenal oleh kalangan petani dan tidak populer. Seandainya kerbau ini bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “terima kasih manusia, karena engkau aku jadi terkenal. Karena masalahmu aku menjadi terhormat, diperbincangkan dimana-mana.”
Namun polemik atau komentar tentang kepopuleran kerbau ini menuai kontroversi. Artinya, ada pihak-pihak yang setuju dan tidak setuju terhadap penggunaan hewan kerbau sebagai media demonstrasi. Alasan dari yang tidak setuju adalah sangat menghinakan, tidak pantas menggunakan simbol kerbau sebagai simbolisasi pemerintah. Dari yang setuju, ini hanya cerminan dari pemerintahan yang kinerjanya mirip seperti sifat kerbau. Seperti lambat, malas, dan bodoh.
Tentu saja, kalau yang digunakan simbolisasi sifat seperti malas, lambat dan bodoh, siapapun akan marah. Karena bagaimanapun manusia tetap lebih mulia dibandingkan dengan hewan. Tetapi apakah hewan ini adalah hewan yang penuh dengan sifat negatif. Saya yakin, tidak!
Ada yang terlupakan oleh kita sebagai manusia. Kita lupa berterima kasih kepada kerbau. Kenapa kita harus berterima kasih? Kita mungkin tidak menyadari bahwa, nasi yang kita makan itu semua adalah hasil kerja nyata dari hewan kerbau. Sekarang memang jarang kita melihat sawah dibajak oleh kerbau. Tetapi ketika kita masih kecil dan muda, tenaga siapa yang digunakan untuk membajak sawah. Tidak lain adalah kerbau.
Presiden, menteri, DPR dan seluruh manusia khususnya Indonesia pernah memakan nasi dari hasil bajakan kerbau. Jadi buat apa kita merasa malu dengan kerbau, boleh saja kita merasa malu terhadap kerbau kecuali dalam tubuh kita tidak pernah memakan nasi dari hasil bajakan kerbau.
Itu kesalahan kita yang pertama. Kesalahan yang kedua kita adalah terletak pada persepsi tentang kerbau. Kerbau itu adalah binatang yang kuat, giat dalam bekerja, setia kepada pemiliknya, dan tidak pernah membantah tuannya. Artinya kita bisa memanfaatkan kerbau untuk kepentingan yang positif.
Jadi janganlah melihat hewan kerbau dari sisi kejelekannya saja. Lihatlah dari sisi yang lain. Kerbau akan berkata, “Hai manusia, mengapa engkau selalu memposisikanku terhina. Menganggapku hina dan meremehkanku. Padahal, aku sudah mengeluarkan tenaga untuk membajak sawah agar bisa ditanami padi dan hasilnya engkau makan.
Hai manusia, apakah dirimu sangat mulia sehingga engkau bebas menghinakan sifat kejelekan kepada sesama mahluk Tuhan. Apakah tak ada sifat jelek dalam dirimu, manusia. sehingga engkau bebas menghina yang lain karena engkau menganggap dirimu suci dan bersih.”
Seharusnya kita dapat belajar dari seluruh ciptaan Tuhan. Karena Tuhan menciptakan sesuatu di muka bumi penuh dengan makna dan arti. Belajarlah terus, meski dengan kerbau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar